Kritik Sastra - Pendekatan Ekaspresif pada Puisi


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Puisi merupakan karya sastra imajinatif yang menggunakan bahasa sebagai sarana penyampainannya. Bahasa merupakan bahan atau subtansi pokok dari puisi ditangan pengarang bahasa menggunakan instuisi, imajinasi menjadi karya sastra yang mengagumkan. Melalui kata-kata pengarang mengendaki agar pembaca dapat merasakan seperti apa yang dirasakannya. Tetapi kebanyakan orang kesulitan memehami isi puisi karena bahasanya yang kadang bersifat kontatif, maka maksud pengarang yang dituangkan dalam puisi, terbaur oleh kemungkinan arti yang berbeda. Puisi diciptakan penyair dngan mengunakan imajinasi, ide, pikiran dan perasaannya serta menggunakan pengkonsentrasian kekuatan bahasa yang meliputi stuktur fisik dan struktr bantin. Struktuk fisik biasanya berupa ungkapan bahasa yang diampaikan olah penyair, sedangkan stuktur batin merupakn kesatuan yang menjalin cara fungsional (Waluyo, 1987)
Dalam penciptaan sebuah karya sastra menutamakan subuah ide, pikran dan perenungan yang muncul dari ekspresif jiwa, perasaan, dan emosi pengarang atau penyair. Sehingga mampu menciptakan karya sastra yang imajinatif dan kreatif yang dapat dipahami kehindahannya (reseptif estetik). Tidak mengherankan sesorang apabila sedang jatuh cinta menungkan pikiran maupun perasaanya melalui puisi. Romantisme yaitu paham yang idealis melihat kehidupan yang nyata manusia dari persprektif dunia ideal yang sempurna. Romantisme mengutamakan ungkapan perasaan cinta yang cerita-cerita yang di dalamnya banyak melibatkan faktor emosi. Sesungguhnya cerita-cerita yang mengagumkan yang berdasarkan aliran romantik tidak hanya bersifat cnta saja,melainkan juga bertubuh dari pikiran, pengetahuan, dan padangan hidup yang dalam dan luas.
Salah satu penyair yang puisinya identik dengan nuansa romantisme adalah Hamami Adaby. Puisinya banyak termuat dalam Suara Harian Banjarmasin, Majalah Trubus dan Majalah Manggalayuda ABRI Banjarmasin serta ditemukan dalam Buku Pintar Sastra Indonesia. Karya meliputi; Kesumba (2002), Bunga Angin 2003, 36 Mata Pena (2007), Dijari Manismu Ada Rindu (2008), dan sebagainya.

B.     Permasalahan
1.      Bagaimana penggunaan pengdekatan ekspresif dalam kajian analisis puisi?
2.      Bagaimana romantisme dalam puisi “Dijari Manismu Ada Rindu” karya Hamami Adaby?


BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Pendekatan Ekspresif
Pendekatan ekspresif menekankan pegangan penulis sebagai pencipta. Diungkapkan oleh Umry (2005) bahwa pendekatan ekspresif merupakan pendekatan yang menekankan hubungan antara karya satra dengan pengalaman batin dan maksud pengarang. Lebih lajut Yudiono K.S. (1990) mengungkapkan pendekatan ekspresif menekankan pada hubungan antara karya sastra dengan keadaan jiwa pengaranya. Kriteria dalam pendekatan ini diungkapkan oleh Luxemburg (1998) kriterium ekspresivitas sebuah karya sastra adalah baik nila pribadi dan emosi pengarang diungkapkan dengan baik, selain itu intensi (maksud) pengarang diungkapkan dengan baik atau selaras dengan norma-normanya. Bila fungsi sastra dipusatkan pada pengungkapan emosi, seperti yang diungkapkan oleh kaum romantik, maka kriterium ini sangat dipentingkan dalam menilai karya sastra.

B.     Romantisme
Romantisme yaitu suatu faham yang idealis melihat kehidupan nyata manusia dari persprektif dunia yang ideal yang sempurna sehingga menjadi suasanan di dalamnya seimbang dan harmonis seperti dalam kehidupan di surga (Faruk, 1995)
Ciri-ciri romantisme menurut Wellek melalui Faruk (1995; 143) menyatakan bahwa ciri romantisme yaitu :
a.       Persatuan
Romantisme berusaha keras untu mengatasi keterpisahan antara subjek dengan obyek diri dengan dunia dan kesadaran dengan ketaksadaran yang melalui imajinasi-imajinasi, simbol dan mite.
b.      Lebih menonjolkan dunia ideal daripada dunia nyata. Dalam dunia ideal, mengimajinasikan atau gambaran yang terdapat dalam angan lebih menonjol atau dibesar-besarkan.
c.       Petualangan, dalam faham romastisme diungkapkan tentang realita kehidupan yag tergambar tuntas sehingga mampu membuat pembaca tersentuh.
d.      Keaneka ragaman percintaan dan pendalaman



BAB III
PEMBAHASAN

Puisi Karya Hamami Adaby
1.      Puisi “Dijari Manismu Ada Rindu”
(I)                Kurangi kata agar jadi sajak berkalung                     (1)
Kurangkai bait-baitnya agar hati menyatu                 (2)
Yang menulis cincin tunangan                                    (3)
Dijari manismu ada rindu                                           (4)
(II)             Kekasih seperti indah purnama matamu                    (5)
Kurengkuh angin kalau kabar bahagia                      (6)
Tapi dari pntu belakang tak ada suara                       (7)
Terasa lama denyut nadi membeban                          (8)
Sepotong bulan                                                           (9)
Sedang tirai laminan masih                                        (10)
Menyimpang sepi                                                        (11)
(III)          Adinda, gunung dikejar tetap menanti                        (12)
Disini dibukit kita tulis perasasti                                 (13)
Tanda cinta kita bersemi                                             (14)

A.    Pendekatan Ekspresif  Puisi “Dijari Manismu Ada Rindu”
            Karya sastra puisi diciptakan oleh penyair bersumber pada ide, pikiran penyair. Pengungkapan tersebut berdasarkan jiwa, perasaan, emosi dan hasil perenungan penyair.
             Dalam puisi “Dijari Matamu Ada Rindu” mengungkapkan perasaan kerinduan. Hal tersebut terdapat pada semua bait seperti pada baris /dijari manismu ada rindu/, /terasa lama denyut nadi membeban/. Perasan penyair yang kerinduan kepada sang kekasih sehingga menggambarkan rasa gelisah, galau, gundah karena di jari sang kekasih yang elok dan mungil menarik hati serta tidak ada kabar dari sang kekasih sehingga penyair merasa ada beban yang dipergelangan tangannya. Meskipun ada sebuah beban namun hati penyair merasa kerinduan sehingga terlihat khas romastis.
             Suasana yang digambarkan penyair ingin menyampaikan kepada pembaca tentang cinta, kekaguman, dan kerinduan atau kegelisahan yang dialami oleh penyair sehingga membuat harapan yang dalam kepada sang kekasih. Dengan penuh rasa cinta dan perjuangan menimbulkan suasana yang romantis, seperti yang terdapat dalam baris /kurangkai bait-baitnya agar hati menyatu/, /kekasih, seperti indah purnama matanmu/, /dijari manismu ada rindu/, /terasa lama denyut nadi membeban/.

B.     Romantisme Puisi “Dijari Manismu Ada Rindu”
            Dalam romantisme lebih menonjolkan dunia ideal daripada dunia nyata, dalam dunia ideal mengimajinasikan atau gambaran yang terdapat dalam angan lebih menonjol atau dibesar-besarkan. Seperti yang terdapat pada baris /kurangkai bait-baitnya agar hati menyatu/, dan /kekasih seperti indahnya bulan punama/, menggambarkan perasan kasih sayang penyair kepada sang kekasih sehingga penyair membuat kata-kata yang puitis agar perasaannya, harapan dan keinginan penyair menjadi satu. Serta penyair merasa kagum dan memuji keindahan mata yang dimiliki oleh sang kekasih yang begitu terang.
            Ciri romantisme salah satunya adalah tentang percintaan yang tampak pada baris /adinda, gunung dikejar tetap menanti/, /disini dibukit kita tulis perasanti/, /tanda cinta kita bersemi/, menggambarkan betapa dalam rasanya kasih dan sayang penyair kepada sang kekasih sehingga penyair tetep setia menunggu kehadiran sang kekasih meskipun banyak yang meninginkannya. Penyair dan sang kekasih mengukir cinta mereka di tempat yang tinggi sebagai bukti bahwa cinta si penyair dan sang kekasih selalu tumbuh dan memekar. Di dataran ekstetik pandangan dunia serupa tentang romantisme diwujudkan dalam bentuk pengutamaan imajinasi-imajinasi dan pikiran yang tampak pada bait perta dibaris pertama sampai baris keempat, seperti :
(I)                 Kurangi kata agar jadi sajak berkalung
Kurangkai bait-baitnya agar hati menyatu
Yang menulis cincin tunangan
                        Dijari manismu ada rindu
Menggambarkan adanya khayalan si penyair kepada sang kekasih yang dicintai sehingga penyair membuat kata yang puitis agar menyatukan perasaan penyair dan sang kekasih.
             Ciri romantisme meliputi persatuan yang berusaha keras untuk mengatai keterpisahan antara subjek dengan objek, diri dengan dunia dan kesadaran dengan ketidak sadaran yang melalui imajinasi-imajinasi, simbul dan mite tampak pada bait ketiga, seperti :
Adinda, gunung dikejar tetap menanti
Disini dibukit kita tulis perasasti
                        Tanda cinta kita bersemi
Menggambarkan adanya imajinasi tentang cinta yang berhasil diukir pada sebuah tugu oleh sepasang kekasih yang saling mencintai ditempat yang tinggi sebagai simbul bahwa cinta penyair dan sang kekasih selalu tumbuh dan merekah, meskipun cinta adik (sang kekasih) banyak mengejarnya namun si penyair tetap menunggu kehadiran sang kekasih.
             Romantisme melihat kehidupan nyata manusia dari perspektif dunia ideal yang sempurna sehingga menjadikan suasana didalamnya seimbang dan harmonis seperti dalam kehidupan di surga yang tampak pada bait kedua di baris kelima, seperti :  /Kekasih seperti indah purnama matamu/, menggambarka suasana yang romantis dan harminis seperti kehidupan di surga. Karena si penyair mengagumi dan memuji keindahan mata yang dimiliki oleh sang kekasih seperti bulan purnama.
            Dalam dunia ideal, romantisme menginajinatifkan atau gambaran yang terdapat dalam angan lebih menonjol atau dibesar-besarkan yang tampak pada bait kedua dibaris kelima dan baris keenam, seperti baris /kekasih seperti indah purnama matamu/, /kurengkuh angin kalau kabar bahagia/, yang menggambarka mata sangkekasih seperti bulan purnama yang terang dan si penyair akan meraih berita jika berita yang membuat hati penyair senang.
            Ciri romantisme meliputi petualangan yang mengungkapkan tentang realita kehidupan yang tergambar tuntas sehingga mampu membuat pembaca tersentuh terdapat pada bait kedua dibaris ketujuh sampai baris kesebelas, seperti :
Tapi dari pntu belakang tak ada suara
Terasa lama denyut nadi membeban
Sepotong bulan
Sedang tirai laminan masih
Menyimpang sepi

Menggambarkan sebuah keadaan yang sepi karena tidak ada kabar berita tentang janji yang belum pasti sehingga menjadi beban perasaan penyair.
        Pada bait ketiga dan baris ketiga belas sampai keempat belas tampak ciri romanrisme seperti pendalaman yang kental akan ketenteraman dan ketenangan menggambarkan seolah-olah bahwa apabila berada didalamnya, maka akan merasa lebih tenang dan nyaman sehingga tercipta suasana yang romantis seperti baris /disini dibukit kita tulis perasasti/, /tanda cinta kita bersemi/, menggambarkan adanya sebuah cinta dari sepasang kekasih yang saling mencintai sehingga tercinta suasana yang romantis.



BAB IV
PENUTUP

A.    Simpulan
                  Puisi “Dijari Manismu Ada Rindu” Hamami Adaby telah menunjukkan ciri-ciri romantisme hal ini terlihat dalam bait-bait yang mengutamakan perasan rindu dalam puisi “Dijari Manismu Ada Rindu”. Romantisme pada puisi “Dijari Manismu Ada Rindu” terlihat makna kata yang romantis bahasa yang digunakan untuk mempertegas maksud menandakan keindahan bunyi, meperjelas makna, menyentuh perasaan dan memberi efek ekstetika.
                  Adanya romantisme pada kata-kata yang berlebih-lebihan mengutamakan perasaan dan bicara tentang cinta, Hamami Adaby telah menunjukkan ciri romantisme yaitu tentang percintan yang menceritakan kisah cinta sepasang kekasih yang saling mencintai dan menjadi satu dalam ikatan suami istri.

B.     Saran
                  Romantisme dalam puisi “Dijari Manismu Ada Rindu” karya Hamami Adaby yang sudah dibahas diharapkan bisa memberikan manfaat bagi para pembaca. Disarankan bagi para guru bidang studi bahasa dan sastra indonesia bisa lebih mengembangkan lagi terutama dalam hal kemampuan mengapresiasikan karya sastra.
                  Bagi penikmat puisi ada baiknya memahami isi yang terkandung pada puisi, dengan memahami makna kata, bunyi dan bahasa yang ada di dalamnya.



DAFTAR PUSTAKA

Adaby, Hamami, 2008. Dijari Matamu Ada Rindu. Banjarmasin : Dewan Kesenian Banjar Baru.
Aminudin, 1995. Pengantar Apresiasi Karya Sasatra. Bandung : Sinar Baru.
Faruk, 1995. Penlawanan Tak Ujung Usai. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
Pradopo, Rahmad Djoko. 2005. Pengajian Puisi. Yogyakarata; University Prees.
Waluyo, Herman J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta ; Erlangga.